Surga Keberagaman Di Tana Toraja

Toleransi, sebuah kata yang menjadi menu wajib untuk diperdengarkan dan didengungkan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Keragaman suku, agama, ras, dan budaya yang ada di Bumi Pertiwi mendorong kata toleransi untuk terus didengungkan di berbagai kesempatan. Mulai dari seminar, dialog, hingga regulasi atau kebijakan negara. Semua demi menjaga keutuhan Nusantara.
Namun, setiap usaha yang dilakukan seakan tak berbekas, kala muncul konflik yang dipicu oleh pihak-pihak yang selalu merasa benar dengan keyakinannya sendiri. Ini menampar kita untuk tersadar bahwa wacana toleransi belum sepenuhnya berhasil.
Maka, melalui tulisan ini izinkan Penulis untuk memberikan kesaksian bagaimana toleransi betul-betul ada bukan hanya sekedar kata di tempat aku mengabdikan diri di tanah para raja, Tana Toraja.
Penulis merupakan salah satu peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Moderasi Beragama yang diselenggarakan IAIN Parepare di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada 12 Juli—26 Agustus 2023. KKN ini diikuti oleh perwakilan dari Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) se-Indonesia. Sedangkan Penulis merupakan salah satu perwakilan dari UIN Raden Intan Lampung yang berjumlah 5 mahasiswa.
Toleransi benar-benar terintegrasi dalam pola hidup dan bermasyarakat Tana Toraja. Tak pernah ada saling banding membandingkan, tak ada kata saling hujat, maupun bahasa-bahasa penolakan. Kehidupan mengalir seiring sejalan dengan keyakinan masing-masing. Saling memberi ruang, saling mengerti bahkan saling tolong. Ya “tolong menolong”, tanpa melihat latar belakang. Di Toraja kita akan menyaksikan Upacara adat dilakukan secara gotong royong oleh jemaah bersama warga beragam agama. Penulis katakan bersama karena jumlah jemaah masjid dan jemaah gereja yang terlibat, kadang berbanding lurus.
Bukan hanya sekedar pencitraan dengan mengutus beberapa orang atau beberapa perwakilan. Mereka bekerja bersama. Sama-sama mengangkat, sama-sama kotor, sama-sama tertawa dan sama-sama lelah. Indahnya pemandangan itu. Damainya hati saat menjalani rutinitas hidup penuh kegotong-royongan tanpa sekat. Kebersamaan ini pun terlihat sangat hangat dan damai.
Tak hanya itu, masyarakat Muslim di Tana Toraja juga tidak perlu khawatir ketika ada penjamuan di acara bersama. Dalam hajatan Rambu Tuka‘ (acara suka cita) dan Rambu Solo’ (acara duka cita) maka selalu ada pihak dari masing-masing jemaah yang diberi kepercayaan untuk mengelola makanan.
Masyarakat akan menjaganya dari ketakutan bercampur dengan yang “non-halal” bagi Muslim, serta mendistribusikannya lengkap dengan peralatan yang memang steril dan dipersiapkan khusus. Jadi, kita tak perlu ragu untuk menikmati hidangan itu.
Penulis menulis ini karena ada langsung di tengah-tengah mereka untuk belajar apa itu toleransi untuk diri penulis pribadi dan untuk negeri kita ini.
Penulis dan peserta KKN Moderasi Beragama yang dari berbagai daerah berjumpa dan bercengkrama dengan masyarakat di Tana Toraja tepatnya di Lembang Rumandan, Kecamatan Rano Kabupaten Tana Toraja. Sambutan hangat masyarakat Toraja mengartikan bahwa kata yang tepat sesuai dengan keindahan pegunungan disekitarnya.
Untuk itulah penulis bangga, bersyukur bisa mengabdikan dan belajar di Bumi Toraja. Semoga selama kurang lebih 45 hari berada di lokasi KKN ini, penulis dan teman-teman dari daerah lain diberikan kelancaran dan bisa mengabdikan diri semaksimal mungkin. Bahkan potret toleransi yang paling indah, yang pernah penulis temui adalah masyarakat Toraja. Kita sebagai masyarakat, dapat menerapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang berada di Land of The King, Tana Toraja.
*Penulis Rifa’i Teguh Saputra, mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung, peserta KKN Nusantara Moderasi Beragama 2023 di Tana Toraja.