Kuda Lumping sebagai Penguat Solidaritas Antar Penduduk Desa


Sejumlah masyarakat memainkan Gamelan pengiring Kuda Lumping. (Dok. Ist.)

Warga Dusun Tegal Rejo, Desa Way Urang, Pesawaran, antusias mengikuti acara Kuda Lumping di desa setempat, Sabtu (5/8/2023) malam. Kegiatan yang sering dilakukan ini sebagai salah satu penguat solidaritas antar penduduk desa.

Pada acara tersebut, diselenggarakan oleh Kepala Dusun Tegal Rejo dengan mengangkat tema “Kearifan Lokal Simbol Kerukunan dan Solidaritas Antar Umat”. Makna dari tema ini diharapkan solidaritas antar penduduk dan antar agama semakin menguat dalam kearifan lokal Kuda Lumping yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat.

Kuda Lumping merupakan perpaduan seni tari dan unsur mistis yang dapat menyatukan dan menguatkan semangat kebersamaan di masyarakat.

Dengan adanya Mahasisa KKN Melayu Serumpun menambah antusias warga yang berasal dari berbagai latar belakang keagamaan untuk berpartisipasi tanpa memandang perbedaan keyakinan. Perayaan ini diawali dengan ziarah bersama ke makam leluhur, menunjukkan bahwa kearifan lokal mampu memperkuat hubungan antar umat beragama dengan menghargai tradisi nenek moyang.

Ketua Panitia Acara sekaligus Kepala Dusun Tegal Rejo, Sarmidi, menyatakan bahwa perayaan Kuda Lumping di Desa Way Urang adalah wujud nyata kehidupan beragama yang harmonis dan saling menghormati. “Kegiatan ini bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga membawa pesan damai dan kerukunan antar sesama umat beragama,” katanya.

Kuda Lumping, tarian khas Jawa yang menggambarkan kekuatan dan kehalusan sekaligus mengandung unsur mistis, diterima oleh masyarakat dengan antusiasme. Menariknya, dalam acara ini, warga dari berbagai kepercayaan turut berpartisipasi dalam menari dan melibatkan diri dalam ritual mistis, menunjukkan persatuan dan kesamaan tujuan.

Jiyak, salah satu peserta dari komunitas agama Kristen ikut berpartisipasi memainkan gamelan sebagai pengiring Kuda Lumping. Dia mengungkapkan kesannya, “Saya sangat senang bisa ikut serta dalam acara ini dan merasakan kebersamaan yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi solidaritas dan persatuan diantara kita.”

Sementara itu, Kepala Desa Way Urang, Slamet, menambahkan bahwa Kuda Lumping adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di desa tersebut. “Kami bersyukur karena acara ini tidak hanya memperkuat kearifan lokal, tetapi juga menjadi medium untuk menjalin kebersamaan dan toleransi antar umat beragama,” ungkap Slamet.

Kerukunan yang terlihat dalam acara ini dapat menginspirasi tentang bagaimana tradisi budaya lokal menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan di tengah keberagaman. Semoga semangat kebersamaan dan toleransi ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam menjaga harmoni dan kedamaian.* (Febriansyah/NF)