PSGA UIN Raden Intan Lampung Bahas Strategi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi Indonesia dan Malaysia

Bandar Lampung (Humas LP2M) Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Raden Intan Lampung turut berperan dalam diskusi akademik bertajuk “Strategies for Preventing and Handling Sexual Violence at Universities in Indonesia and Malaysia”. Diskusi ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan dan pengalaman dalam memperkuat upaya pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Indonesia dan Malaysia. (Senin, 10 Agustus 2026)
Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah akademisi dan pemerhati isu gender, di antaranya Dr. Athin Lathifah, M.Ag., Wakil Dekan I Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Hj. Briliyan Erna Wati, S.H., M.Hum., serta Anis Shalatin Simon, M.Pd.I. Kehadiran para akademisi tersebut memperkaya perspektif dalam membahas berbagai tantangan dan strategi yang dapat diterapkan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.

Diskusi membahas berbagai pendekatan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dengan membandingkan pengalaman, kebijakan, serta praktik yang berkembang di perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia. Pertukaran perspektif lintas negara ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif sekaligus membuka peluang penguatan kerja sama dalam isu perlindungan dan pemenuhan hak-hak warga kampus.
Keterlibatan PSGA UIN Raden Intan Lampung menjadi bagian penting dalam mendorong penguatan perspektif gender, perlindungan korban, serta pembangunan budaya akademik yang inklusif dan berkeadilan. Pencegahan kekerasan seksual tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga dukungan seluruh sivitas akademika melalui edukasi, penguatan mekanisme pelaporan, pendampingan korban, dan penanganan yang berpihak pada pemulihan.
Melalui diskusi ini, PSGA UIN Raden Intan Lampung terus memperkuat jejaring akademik dan kelembagaan dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Indonesia dan Malaysia diharapkan dapat melahirkan strategi yang lebih efektif dan kontekstual dalam mencegah serta menangani kekerasan seksual di perguruan tinggi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan perguruan tinggi yang aman, inklusif, berkeadilan gender, serta bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. (WR)